Damkarmat Makassar Ungkap 184 Kebakaran, Ini Wilayah yang Rawan
![]() |
| Kebakaran di Depan Citra Sudiang Makassar |
Kepala Damkarmat Kota Makassar Fadli Wellang mengatakan RT/RW memiliki posisi penting dalam pencegahan kebakaran karena berhubungan langsung dengan masyarakat. Pengawasan terutama diperlukan di kawasan padat penduduk, lahan kosong, serta wilayah yang memiliki potensi aktivitas pembakaran terbuka.
“Kami mengharapkan RT dan RW lebih intens mengawasi wilayahnya, terutama yang punya wilayah luas, memiliki lahan kosong dan padat penduduk. Awasi warganya karena kadang mereka iseng membakar hingga menimbulkan bahaya,” ujar Fadli di Makassar, Sabtu.
184 Kebakaran Terjadi di Makassar hingga Pertengahan Agustus
Data Damkarmat Makassar mencatat 184 kejadian kebakaran sejak awal 2026 hingga pertengahan Agustus.
Fadli mengatakan jumlah kebakaran pada semester pertama 2026 sebenarnya mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, memasuki semester kedua, angka kejadian kembali meningkat.
“Cuma mengalami peningkatan di awal semester dua. Pada Juli sampai pertengahan Agustus sudah 34 kejadian,” tuturnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian kebakaran terjadi di kawasan permukiman yang padat dan memiliki bangunan dengan material yang mudah terbakar.
50 Rumah Terdampak Kebakaran di Tallo
Salah satu kebakaran besar terjadi pada akhir Juli 2026 di kawasan padat penduduk Jalan Sultan Abdullah II, Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo.
Peristiwa tersebut berdampak terhadap 50 unit rumah yang dihuni 79 keluarga atau 307 jiwa.
Fadli merinci, sebanyak 26 keluarga dengan total 105 jiwa berada di RT 004. Sementara di RT 005 terdapat 52 keluarga dengan 202 jiwa.
Sebagian besar rumah di kawasan tersebut merupakan rumah panggung yang berada di wilayah pesisir. Kondisi permukiman yang rapat membuat api berpotensi lebih cepat merambat dari satu bangunan ke bangunan lainnya.
RT/RW Diminta Aktif Cegah Kebakaran
Menurut Fadli, pencegahan kebakaran tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas pemadam. Peran masyarakat sangat dibutuhkan, terutama melalui RT dan RW yang dapat melakukan pengawasan sekaligus memberikan edukasi kepada warga.
RT/RW diharapkan mengingatkan warga agar tidak melakukan pembakaran sembarangan, khususnya di lahan kosong atau area yang berdekatan dengan permukiman.
“Kita bisa menyiasati ini, mudah-mudahan bahaya-bahaya kebakaran tidak terjadi lagi, dan kita lebih siaga mengantisipasinya,” katanya.
Pengawasan juga penting dilakukan terhadap lingkungan yang memiliki kepadatan bangunan tinggi dan akses yang berpotensi menyulitkan kendaraan pemadam kebakaran.
Korsleting Listrik Jadi Salah Satu Pemicu Kebakaran
Fadli menyebut korsleting listrik, kompor, dan kondisi cuaca panas sebagai sejumlah faktor yang diduga menjadi pemicu kebakaran belakangan ini.
Masyarakat diminta rutin memeriksa instalasi listrik, terutama kabel yang sudah tua, rusak, atau tidak lagi layak digunakan. Penggunaan terminal listrik secara berlebihan juga perlu dihindari karena dapat meningkatkan risiko korsleting.
“Hal-hal yang inilah dapat menjadi sumber kebakaran jika lalai, karena berkaitan dengan bagaimana pemantik listrik (api) ini bisa muncul,” ujarnya.
Selain instalasi listrik, peralatan elektronik dan peralatan memasak yang menggunakan gas maupun listrik juga perlu diperiksa secara berkala.
Permukiman Padat Masuk Wilayah Rawan
Kawasan padat penduduk menjadi salah satu lokasi yang memiliki risiko kebakaran tinggi. Bangunan semi permanen dapat membuat api lebih cepat menyebar apabila terjadi percikan atau sumber api.
Risiko juga dapat meningkat ketika cuaca panas dan kondisi lingkungan kering. Karena itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan terutama di wilayah yang memiliki banyak bangunan berdekatan.
Sejumlah titik rawan kebakaran berada di bagian utara, selatan, dan timur Kota Makassar. Wilayah yang disebut antara lain sebagian Kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, Tallo, dan Manggala.
Langkah Sederhana Mencegah Kebakaran di Rumah
Masyarakat dapat melakukan beberapa langkah sederhana untuk mengurangi risiko kebakaran, antara lain:
- Periksa kabel dan instalasi listrik secara berkala.
- Hindari penggunaan terminal atau colokan secara berlebihan.
- Pastikan kompor dan regulator gas dalam kondisi baik.
- Jangan meninggalkan kompor dalam keadaan menyala tanpa pengawasan.
- Hindari membakar sampah atau benda mudah terbakar di dekat permukiman.
- Pastikan akses menuju rumah tidak terhalang sehingga kendaraan pemadam dapat masuk ketika terjadi kebakaran.
- Segera laporkan kondisi yang berpotensi memicu kebakaran kepada pengurus lingkungan atau petugas terkait.
Dengan meningkatnya kejadian kebakaran pada awal semester kedua, pengawasan lingkungan menjadi langkah penting untuk menekan risiko. Keterlibatan RT/RW dan kewaspadaan warga dapat menjadi lapisan pencegahan pertama sebelum kebakaran berkembang menjadi bencana yang lebih besar. (*)
