Transformasi Digital, Lontara+ Makassar Tangani 25.219 Aduan
![]() |
| Lontara+ Makassar |
MAKASSAR – Transformasi digital Pemerintah Kota Makassar mendapat perhatian dalam kunjungan peserta Australia Awards Short Course: Governance and Public Policy Making for Subnational Governments di Makassar Virtual Economic Center (MARVEC), Gedung Makassar Government Center (MGC), Rabu (5/8/2026).
Salah satu inovasi yang menjadi sorotan adalah Makassar Super Apps Lontara+, yang mengintegrasikan berbagai layanan publik dan kanal pengaduan masyarakat dalam satu platform.
Dalam pemaparan bertajuk Digital Insight, Better Governance, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Makassar Muhammad Roem menjelaskan pemanfaatan digitalisasi untuk memperkuat pelayanan publik sekaligus meningkatkan respons pemerintah terhadap keluhan warga.
25.219 Aduan Masuk melalui Lontara+
Roem memaparkan, sepanjang Juli 2025 hingga Agustus 2026 terdapat 25.219 aduan masyarakat yang masuk melalui Lontara+.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 22.663 aduan telah diselesaikan atau sekitar 89,9 persen.
Menurut Roem, integrasi layanan melalui Lontara+ turut meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menyampaikan aspirasi dan keluhan.
Jumlah aduan masyarakat disebut meningkat hingga 418 persen dalam satu tahun, sementara pengguna aktif Lontara+ telah mencapai 88.015 pengguna.
“Melalui integrasi seluruh layanan ke dalam satu aplikasi, masyarakat kini dapat mengakses berbagai pelayanan publik dengan lebih mudah,” jelas Roem.
Sebelum Lontara+, Ada 358 Aplikasi
Roem menjelaskan, sebelum Lontara+ diterapkan, Pemerintah Kota Makassar memiliki 358 aplikasi yang digunakan secara terpisah oleh berbagai perangkat daerah.
Kondisi tersebut membuat layanan publik belum terintegrasi. Aspirasi masyarakat juga tersebar di berbagai platform sehingga pemerintah kesulitan memperoleh gambaran secara menyeluruh mengenai kepuasan masyarakat.
Lontara+ kemudian dikembangkan untuk mengintegrasikan berbagai layanan tersebut dalam satu platform dan resmi diluncurkan pada 27 Juli 2025.
Kepuasan Pengguna Capai 87,5 Persen
Hasil evaluasi yang dipaparkan Roem menunjukkan respons positif masyarakat terhadap implementasi Lontara+.
Sebanyak 92,5 persen pengguna menilai aplikasi tersebut mempermudah akses layanan, sementara 90 persen menyatakan aplikasi mudah digunakan.
Kemudian, 87,5 persen pengguna menilai layanan pemerintah semakin transparan dan persentase yang sama menyatakan puas terhadap pelayanan yang diterima.
Lebih dari 70 persen responden juga menilai respons terhadap pengaduan masyarakat berlangsung cepat.
Menurut Roem, capaian tersebut turut mengantarkan Pemerintah Kota Makassar memperoleh sejumlah apresiasi dan penghargaan nasional di bidang transformasi digital.
MARVEC Pantau Kondisi Kota secara Real-time
Selain Lontara+, peserta Australia Awards diperkenalkan dengan fungsi Makassar Virtual Economic Center (MARVEC) sebagai pusat analisis dan integrasi data Kota Makassar.
Melalui MARVEC, pemerintah dapat memantau berbagai kondisi kota secara real-time, mulai dari CCTV lalu lintas, pelayanan pajak, pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), hingga sejumlah indikator strategis untuk mendukung pengambilan keputusan.
Roem mengatakan pemanfaatan data tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Makassar membangun tata kelola pemerintahan berbasis data.
Call Center 112 Jadi Layanan Kegawatdaruratan
Dalam kesempatan yang sama, Roem juga memperkenalkan Call Center 112 sebagai layanan kegawatdaruratan yang dapat diakses masyarakat selama 24 jam.
Berbagai inovasi digital tersebut menjadi bagian dari strategi Pemkot Makassar membangun sistem pelayanan yang lebih cepat, terintegrasi, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Peserta Australia Awards Terkesan
Kunjungan tersebut diikuti 27 peserta yang berasal dari tiga kementerian, yakni Kementerian Dalam Negeri, Bappenas, dan Kementerian Keuangan, serta perwakilan dari 12 provinsi di Indonesia.
Peserta berasal dari Aceh, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Gorontalo, Kalimantan Utara, Papua, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya.
Rombongan dipimpin Course Leader Australia Awards Short Course, Rachel Nolan.
Rachel mengaku terkesan dengan pusat pemerintahan baru Kota Makassar serta sistem teknologi yang digunakan pemerintah dalam merespons keluhan masyarakat.
“Saya sangat terkesan dengan Pusat Pemerintahan Makassar yang baru, serta kecanggihan sistem teknologi Anda dalam merespons keluhan warga,” ujarnya.
Menurut Rachel, kemudahan masyarakat dalam menyampaikan keluhan sekaligus memperoleh informasi mengenai proses penanganannya menjadi salah satu kekuatan sistem yang dibangun Pemkot Makassar.
Ia menilai sistem tersebut juga dapat membantu pemerintah mengelola sumber daya secara lebih efektif sehingga pengambil kebijakan memiliki informasi yang lebih baik dalam menentukan prioritas pembangunan.
Kunjungan Australia Awards tersebut menjadi kesempatan bagi Pemkot Makassar untuk berbagi pengalaman mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam pelayanan publik, pengelolaan pengaduan masyarakat, dan pengambilan keputusan berbasis data. (*)
