Tunanetra, Imanuddin Lulus Cumlaude dan Jadi Lulusan Terbaik Ilmu Komunikasi UMI Makassar
![]() |
| Tangis Imanuddin Pecah di Hari Wisuda, Tunanetra Ini Jadi Lulusan Terbaik UMI |
MAKASSAR INFO -- Keterbatasan penglihatan tak menghalangi Muhammad Imanuddin menyelesaikan pendidikan tinggi dengan prestasi membanggakan.
Mahasiswa asal Masamba, Sulawesi Selatan, itu resmi menyandang gelar sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar dengan predikat cumlaude. Ia juga dinobatkan sebagai lulusan terbaik Jurusan Ilmu Komunikasi dari sekitar 200 mahasiswa yang diwisuda.
Momen haru tersebut berlangsung dalam Wisuda Periode Kedua Tahun 2026 UMI di Phinisi Ballroom, Hotel Claro Makassar, Kamis (27/8/2026).
Dengan mengenakan toga, Imanuddin mengaku tidak dapat melihat secara langsung tepuk tangan keluarga dan orang-orang yang hadir. Namun, suara dan dukungan mereka tetap menjadi bagian penting dari kebahagiaannya.
“Meskipun tidak bisa melihat secara langsung, saya bisa merasakan dan mendengar tepukan dari semuanya," ujar Imanuddin.
Keterbatasan Penglihatan Bukan Penghalang
Bagi Imanuddin, keterbatasan penglihatan bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.
Ia mengatakan, kemampuan seseorang dalam menatap masa depan tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan melihat secara fisik. Menurutnya, mental, ilmu, dan keberanian menjadi bekal penting untuk mencapai impian.
“Satu hal yang saya katakan bahwa melihat masa depan itu tidak hanya melihat dengan mata saja," ucapnya.
“Untuk mencapai setiap impian, yang dibutuhkan itu adalah mental, ilmu, dan keberanian," tambahnya.
Imanuddin mulai menempuh pendidikan di UMI pada 2022. Ia memilih Ilmu Komunikasi karena tertarik dengan bidang tersebut dan menilai UMI memiliki reputasi yang baik.
“Masuk di UMI tahun 2022, alasan masuk di UMI, karena memang ingin ambil jurusan ilmu komunikasi, karena branding UMI bagus juga, jadi saya nda ragu masuk di sini," imbuhnya.
Fasilitas Mahasiswa Disabilitas Masih Perlu Ditingkatkan
Selama menjalani perkuliahan, Imanuddin menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait fasilitas bagi mahasiswa penyandang disabilitas.
Menurutnya, fasilitas tersebut masih perlu ditingkatkan agar semakin mampu menunjang kebutuhan mahasiswa dengan berbagai keterbatasan. Meski demikian, ia menilai penerimaan terhadap mahasiswa disabilitas di lingkungan UMI sudah berjalan dengan baik.
Tantangan juga muncul ketika menyelesaikan skripsi. Imanuddin memastikan seluruh tulisan dalam skripsinya dikerjakan sendiri.
Kendala terutama dirasakan ketika mengerjakan bagian yang membutuhkan kemampuan visual, seperti pengambilan foto atau memastikan bagian tertentu dalam halaman.
“Ini saya tulis sendiri, yang bikin terkadang susah itu waktu ada pengambilan foto, sama yang spesifik seperti halaman, itu minta tolong orang," jelasnya.
Ingin Bangun Akademi di Kampung
Setelah meraih gelar sarjana, Imanuddin tidak ingin berhenti belajar. Ia justru telah menyiapkan cita-cita untuk memberikan manfaat bagi masyarakat di kampung halamannya.
Ia ingin membangun sebuah akademi yang dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat dan potensi mereka.
“Tapi spesifik memang ada harapan saya ingin membangun seperti akademi di kampung yang nanti bisa menjadi tempat adek-adek, mengembangkan bakat seperti itu," bebernya.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Imanuddin berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Ia juga ingin memperluas jaringan dan relasi yang dapat mendukung rencana tersebut.
“Tapi untuk sampai di sana saya harus lanjut dulu S2. Mencari relasi yang luas agar memudahkan saya ke sana nanti," ucapnya.
Aktif di Organisasi Disabilitas
Selama menjadi mahasiswa, Imanuddin mengaku tidak terlalu aktif dalam organisasi internal kampus. Ia lebih banyak terlibat dalam organisasi yang bergerak di bidang disabilitas.
Beberapa organisasi yang pernah diikutinya antara lain YAPTI dan FORTUNI. Ia juga memiliki latar belakang pendidikan di YAPTI.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk keberanian Imanuddin dalam menghadapi berbagai tantangan selama menempuh pendidikan tinggi.
Pesan untuk Penyandang Tunanetra
Pengalaman menyelesaikan kuliah hingga meraih predikat lulusan terbaik membuat Imanuddin ingin memberikan semangat kepada penyandang tunanetra yang ingin melanjutkan pendidikan.
Menurutnya, keberanian untuk memulai merupakan langkah penting. Seseorang tidak perlu menunggu seluruh kondisi menjadi sempurna sebelum mengambil langkah.
“Berani saja dulu untuk melangkah, karena kalau kita mau tunggu semua inklusif, semua harus sesuai kebutuhan kita, nda akan maju," tuturnya.
Ia juga mengajak penyandang tunanetra untuk berani menghadapi berbagai hambatan dan mencari jalan keluar ketika menghadapi kesulitan.
“Kita harus berani dulu lewati apa yang memang menjadi tantangan. Kita cari jalan keluarnya," tambahnya.
Perjuangan tersebut berbuah hasil. Imanuddin berhasil meraih IPK 3,81 dengan predikat cumlaude sekaligus menjadi lulusan terbaik Jurusan Ilmu Komunikasi.
UMI Wisuda 1.574 Mahasiswa
Pada periode kedua tahun 2026, UMI Makassar mewisuda 1.574 lulusan.
Prosesi wisuda digelar di Phinisi Ballroom, Hotel Claro Makassar, Kamis (27/8/2026). Rangkaian wisuda dilanjutkan pada Jumat (28/8/2026), dengan 1.292 mahasiswa dijadwalkan mengikuti prosesi pengukuhan.
Rektor UMI Prof. Hambali Thalib dalam sambutannya mengingatkan para lulusan bahwa gelar akademik bukanlah akhir perjalanan.
Ia mengajak para wisudawan memikirkan kembali manfaat ilmu yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan.
“Karena itu saya ingin memulai dengan pertanyaan sederhana, setelah mendapat gelar, untuk siapa ilmu saudara digunakan?,” katanya.
Menurut Hambali, masyarakat masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari ekonomi, pekerjaan, kesehatan, lingkungan, pendidikan, keadilan hingga perubahan teknologi.
Karena itu, perguruan tinggi tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan jumlah program studi, lulusan, maupun capaian akademik. Ilmu yang dikembangkan harus mampu memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
UMI Diperkuat 117 Guru Besar
Saat ini UMI memiliki 71 program studi yang tersebar pada enam jenjang pendidikan. Sebanyak 34 program studi atau 47,89 persen telah memperoleh peringkat Unggul dan A.
UMI juga diperkuat 1.004 dosen, termasuk 117 guru besar. Sementara jumlah mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan mencapai 24.424 orang.
Mahasiswa UMI juga mencatat sejumlah prestasi di tingkat nasional maupun internasional.
Di antaranya mahasiswa Fakultas Hukum yang meraih Gold Medal dalam kompetisi internasional di Chiang Mai University, Thailand, serta mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer yang lolos program student exchange di Kyushu Institute of Technology, Jepang.
UMI juga menjadi Juara Umum Kontes Robot Indonesia Regional IV 2026 dengan membawa pulang tiga medali emas.
UMI Salurkan Rp1,599 Miliar untuk 121 Mahasiswa
Dalam kesempatan tersebut, Rektor UMI mengungkapkan kebijakan afirmasi bagi mahasiswa yang hampir menyelesaikan pendidikan tetapi terkendala biaya.
Sebanyak 121 mahasiswa pada jenjang Sarjana, Magister, dan Doktor diketahui berada di tahap akhir pendidikan, tetapi belum dapat mengikuti ujian akhir karena persoalan finansial.
UMI kemudian memberikan Bantuan Beasiswa Afirmasi Penyelesaian Studi sebesar Rp1,599 miliar kepada 121 mahasiswa tersebut.
Hambali menegaskan bantuan diberikan agar persoalan ekonomi tidak membuat mahasiswa berhenti ketika sudah berada di penghujung masa studi.
“Masalah mahasiswa harus diketahui sebelum terlambat. Bantuan harus diupayakan sebelum mahasiswa menyerah," imbuhnya.
Rektor UMI: Mulai Besok, Buat Masyarakat Merasakan Manfaatnya
Hambali menutup pesannya dengan mengingatkan para wisudawan agar menjadikan ilmu yang diperoleh sebagai bekal untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.
Menurutnya, wisuda bukan sekadar seremoni untuk mengakhiri masa kuliah. Para lulusan justru memasuki fase baru untuk mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
“Hari ini saudara menerima gelar. Mulai besok, buatlah masyarakat menerima manfaatnya. Kita tidak sedang sekadar melepas mahasiswa dari kampus. Kita sedang mengutus manusia pembelajar untuk memasuki masa depan," pesannya.
Pesan tersebut sejalan dengan cita-cita Imanuddin setelah menyelesaikan pendidikan sarjana. Baginya, gelar cumlaude dan predikat lulusan terbaik bukanlah garis akhir, melainkan pijakan untuk melanjutkan pendidikan dan suatu hari membangun ruang belajar bagi anak-anak di kampung halamannya.
