Sosial Media
0
News
    Home Pemkot Makassar

    Jelajah Sampah Tamalanrea Jadi Titik ke-14, Warga Diajak Pilah Sampah dari Rumah

    5 min read

     

    Jelajah Sampah Tamalanrea Jadi Titik ke-14, Warga Diajak Pilah Sampah dari Rumah

    MAKASSAR – Pemerintah Kota Makassar terus memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menangani persoalan persampahan melalui program Jelajah Sampah.

    Kegiatan yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar di Jalan Bumi Tamalanrea Permai, Kecamatan Tamalanrea, Minggu (16/8/2026), menjadi titik ke-14 sejak program tersebut berjalan.

    Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi bersama Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar sekaligus Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

    Pemkot Makassar menekankan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah. Perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam mengurangi dan memilah sampah dari rumah, menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi persoalan persampahan.

    Munafri: Persoalan Sampah Harus Ditangani Bersama

    Munafri mengatakan Jelajah Sampah tidak sekadar menjadi kegiatan memungut sampah, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap kondisi lingkungan.

    "Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah, dibutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat, mulai dari rumah tangga, komunitas hingga berbagai unsur lainnya," kata Munafri.

    Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, dan berbagai unsur lainnya diperlukan untuk menciptakan lingkungan Kota Makassar yang lebih bersih dan sehat.

    Pengelolaan sampah, kata dia, harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga. Masyarakat didorong untuk mengurangi sampah, memilah berdasarkan jenisnya, serta mengolah sampah yang masih memiliki nilai guna.

    "Pengelolaan sampah harus dimulai dari kesadaran masyarakat, dibantu oleh pemerintah dan komunitas. Kolaborasi ini sangat penting menjaga kebersihan kota," tuturnya.

    Warga Makassar Didorong Memilah Sampah dari Rumah

    Melalui Jelajah Sampah, masyarakat diajak mengenali jenis sampah yang dihasilkan setiap hari, termasuk sampah organik dan anorganik.

    Munafri berharap kegiatan tersebut tidak hanya meningkatkan pemahaman warga terhadap persoalan persampahan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.

    "Tentu lewat kegiatan seperti ini, masyarakat tidak hanya diajak mengetahui persoalan sampah, tetapi juga memahami bagaimana sampah dapat dipilah, dikelola dan memiliki nilai manfaat," ujarnya.

    Ia menilai kegiatan langsung di lapangan juga dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka.

    "Lewat Jelajah Sampah ini, kita tidak hanya datang untuk memungut dan membersihkan, tetapi juga untuk membuka mata dan memasang kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekitar kita," katanya.

    Munafri Minta Jelajah Sampah Tak Berhenti Jadi Seremonial

    Munafri meminta program Jelajah Sampah tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia ingin kegiatan tersebut menghasilkan perubahan kebiasaan yang berkelanjutan di tengah masyarakat.

    Warga diharapkan mulai mengurangi timbulan sampah, melakukan pemilahan sejak dari rumah, mengolah sampah yang masih bisa dimanfaatkan, serta memastikan sampah residu dikelola dengan benar.

    "Jelajah Sampah titik ke-14 ini jangan berhenti sebagai kegiatan seremonial. Kita ingin ada gerakan nyata dari masyarakat untuk mengurangi, memilah, mengolah dan mengelola sampah mulai dari lingkungan masing-masing," tegasnya.

    Jelajah Sampah Libatkan RT/RW hingga Komunitas

    Kepala DLH Kota Makassar Helmy Budiman mengatakan program Jelajah Sampah telah berlangsung sejak Juni 2026. Kecamatan Tamalanrea menjadi lokasi ke-14 pelaksanaan program tersebut.

    "Ini kegiatan sejak bulan Juni, dan Kecamatan Tamalanrea menjadi kecamatan ke-14," ujar Helmy.

    Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah kecamatan dan kelurahan, RT/RW, kader Posyandu, kader KB, komunitas, serta berbagai unsur masyarakat.

    Menurut Helmy, keterlibatan berbagai elemen masyarakat diperlukan agar edukasi mengenai pengelolaan sampah dapat langsung diterapkan di lingkungan masing-masing.

    "Dan memang dibentuk untuk memberikan pemahaman mengenai permasalahan persampahan dan memberikan berbagai macam solusi berkaitan dengan soal persampahan," jelasnya.

    Ada Pelatihan Biopori, Komposter hingga Maggot

    Jelajah Sampah juga diisi dengan edukasi mengenai berbagai metode pengolahan sampah.

    Masyarakat mendapatkan pelatihan terkait pembuatan biopori dan komposter, pengolahan sampah organik menggunakan maggot, serta pembuatan eco-enzyme.

    Sementara kegiatan luar ruangan diisi dengan talk show, diskusi mengenai persoalan persampahan di Makassar, pameran produk daur ulang, hingga aksi plogging dan penimbangan sampah.

    Plogging Kumpulkan 13,06 Kilogram Sampah

    Aksi plogging dalam kegiatan Jelajah Sampah di Kecamatan Tamalanrea mengumpulkan 13,06 kilogram sampah, berdasarkan hasil penjumlahan rincian sampah yang dilaporkan.

    Sampah yang terkumpul kemudian ditimbang dan dipilah berdasarkan jenisnya.

    Jenis SampahBerat
    Organik1,02 kg
    Anorganik3,12 kg
    B30,18 kg
    Residu8,74 kg
    Total13,06 kg

    Rincian tersebut menunjukkan sampah residu menjadi jenis sampah terbanyak, yakni 8,74 kilogram. Berikutnya sampah anorganik sebanyak 3,12 kilogram, sampah organik 1,02 kilogram, dan B3 sebanyak 0,18 kilogram.

    Helmy menegaskan Jelajah Sampah merupakan kegiatan edukatif dan kolaboratif yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sampah.

    Dorong Target Makassar Bebas Sampah 2029

    DLH Makassar menjadikan Jelajah Sampah sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan kesadaran warga dalam membatasi timbulan sampah dan mendorong pengelolaan sampah secara mandiri.

    Program ini menyasar berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pelajar, komunitas hingga masyarakat umum.

    Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi Pemkot Makassar menuju target Makassar Bebas Sampah 2029.

    "Ini menjadi momentum kolektif untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam upaya pembatasan timbulan sampah," pungkas Helmy.

    Pengelolaan Sampah Dimulai dari Rumah

    Jelajah Sampah titik ke-14 di Tamalanrea menunjukkan bahwa persoalan sampah membutuhkan perubahan kebiasaan, bukan sekadar kegiatan bersih-bersih.

    Pemilahan sampah dari rumah, pengurangan timbulan sampah, serta pengolahan sampah yang masih bernilai menjadi langkah penting untuk mendukung target Makassar Bebas Sampah 2029.

    Additional JS