Sosial Media
0
News
    Home HL Kuliner

    Barongko Didorong Naik Kelas, Aliyah Ingin Kuliner Makassar Dikenal hingga Dunia

    "Aliyah Mustika Ilham mendorong barongko dikembangkan lewat inovasi rasa dan kemasan agar kuliner Makassar menjangkau pasar lebih luas."

    3 min read

    Aliyah Mustika Ilham Dorong Barongko Go International Lewat Kolaborasi Gastronomi Makassar–Prancis

    MAKASSAR INFO -- Barongko, kudapan tradisional berbahan dasar pisang, didorong untuk tidak hanya bertahan sebagai warisan kuliner Bugis-Makassar. 

    Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham ingin makanan tradisional tersebut dikembangkan melalui inovasi rasa, kemasan, dan penyajian agar memiliki daya tarik lebih luas, termasuk bagi wisatawan dan pasar internasional.

    Dorongan itu disampaikan Aliyah saat menghadiri Rendez-Vous Rasa 2026 – France Indonesia Gastronomy Week di Anjungan Pantai Losari, Jalan Penghibur, Makassar, Kamis (24/9/2026). 

    Kegiatan yang digelar Alliance Française Makassar bersama mitra Prancis dan Indonesia tersebut mempertemukan unsur budaya melalui gastronomi sekaligus mengangkat kekayaan kuliner Makassar.

    Aliyah menilai pertemuan antara tradisi gastronomi Makassar dan Prancis dapat menjadi ruang untuk melahirkan kreasi baru tanpa menghilangkan identitas makanan lokal.

    “Barongko ini merupakan makanan tradisional kami. Mudah-mudahan dari sini muncul ide dan gagasan baru, apakah dari rasanya, kemasannya atau cara penyajiannya, sehingga bisa menjadi makanan yang lebih praktis dan bisa dinikmati oleh semua kalangan,” kata Aliyah.

    Barongko Jadi Titik Temu Tradisi dan Inovasi

    Bagi Aliyah, pengembangan kuliner lokal tidak cukup berhenti pada pelestarian resep dan bentuk tradisional. Inovasi dibutuhkan agar makanan khas Makassar dapat diterima oleh lebih banyak kalangan tanpa kehilangan karakter asalnya.

    Ia berharap Rendez-Vous Rasa 2026 tidak berakhir sebagai agenda seremonial, tetapi menghasilkan gagasan dan kerja sama yang bisa dilanjutkan setelah acara selesai.

    “Atas nama Pemerintah Kota Makassar, kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya. Harapan saya, kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi ada kesinambungan dan keberlanjutan,” ujar Aliyah.

    Menurutnya, kolaborasi gastronomi juga dapat membuka ruang bagi para chef dan pelaku kuliner di Makassar untuk menciptakan kreasi yang menggabungkan kekayaan lokal dengan perspektif internasional.

    “Kita punya banyak alumni sekolah kuliner internasional di Makassar. Mereka bisa dikumpulkan dan diajak berdiskusi untuk melahirkan ide dan kreativitas baru, sehingga tercipta kuliner hasil kolaborasi Makassar dan Prancis,” katanya.

    Chef Internasional Dilibatkan

    Rendez-Vous Rasa 2026 menghadirkan sejumlah chef dengan latar belakang gastronomi internasional.

    Mereka antara lain Chef Stéphane Carrade, chef peraih dua bintang Michelin, Chef Eko Hadiwijaya, alumnus Le Cordon Bleu Paris, serta Chef Natalia Tanyadji, pemilik Mama Toko Kue.

    Kehadiran mereka menjadi bagian dari kolaborasi yang mempertemukan pengalaman kuliner Prancis dengan kekayaan bahan dan tradisi makanan di Makassar.

    Bagi Pemerintah Kota Makassar, ruang kolaborasi seperti ini tidak hanya berkaitan dengan makanan. Gastronomi juga dapat dikaitkan dengan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, serta peluang bagi pelaku usaha kuliner untuk memperluas pasar.

    Dari Makassar untuk Pasar Lebih Luas

    Aliyah berharap hasil kolaborasi tersebut tidak berhenti di lokasi acara. Ia ingin inovasi yang lahir dari pertemuan budaya dan gastronomi dapat memberikan manfaat nyata bagi kota, sekaligus memperkenalkan kuliner Makassar ke tingkat yang lebih luas.

    “Jangan sampai setelah kegiatan ini selesai, semuanya berhenti sebagai seremoni. Kita berharap ada hasil yang melekat, ada inovasi baru yang bisa kita persembahkan untuk Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, bahkan diperkenalkan ke dunia internasional,” tutupnya.

    Gagasan tersebut menempatkan kuliner khas Makassar bukan sekadar sebagai produk tradisi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya yang bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata dan memiliki nilai ekonomi.

    Melalui barongko, salah satu kudapan tradisional Bugis-Makassar, kolaborasi gastronomi diharapkan menjadi pintu untuk mempertemukan warisan kuliner lokal dengan inovasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen saat ini.

    Dalam kegiatan tersebut turut hadir Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar Achmad Hendra Hakamuddin, sejumlah perwakilan dan undangan dari unsur Prancis dan Indonesia, serta perwakilan jajaran DPD ASITA Sulsel.

    Additional JS