Sosial Media
0
News
    Home Pemkot Makassar

    Revitalisasi Pedestrian Makassar, Arborist Soroti Akar Pohon dan Keselamatan

    "Pemkot Makassar melibatkan arborist dalam revitalisasi pedestrian Kajaolalido-Thamrin untuk menata pohon, akar, ruang tumbuh, dan utilitas."

    5 min read

     Pemerintah Kota Makassar, tak ingin revitalisasi pedestrian Kajaolalido-Thamrin hanya berorientasi pada pembangunan fisik.

    MAKASSAR INFO -- Revitalisasi pedestrian Kajaolalido-Thamrin di Kota Makassar tidak hanya diarahkan pada pembangunan fisik. Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga memperhatikan keberadaan pepohonan agar penataan kawasan tetap mendukung ekosistem perkotaan.

    Untuk itu, Pemkot Makassar melibatkan ahli arborikultur atau arborist untuk mengkaji kondisi pohon yang berada di area proyek. Kajian tersebut mencakup kondisi pohon, sistem perakaran, ruang tumbuh, hingga potensi konflik antara vegetasi dengan infrastruktur dan jaringan utilitas.

    Ahli arborikultur sekaligus praktisi arsitektur lanskap, Rully Wijaya, mengatakan penanganan vegetasi dilakukan dengan mempertimbangkan karakter masing-masing pohon serta kesesuaian ruang tumbuh yang tersedia.

    Menurut Rully, persoalan pada sejumlah pohon bukan semata-mata terletak pada jenisnya, tetapi juga karakter sistem perakaran ketika pohon tumbuh di kawasan dengan kepadatan infrastruktur dan utilitas yang tinggi.

    "Ketapang kencana itu pohon yang akarnya ekspansif. Jadi sebenarnya pohonnya tidak salah karena itu merupakan karakter pertumbuhannya," ujarnya, Jumat (25/9/2026), menanggapi adanya pedestrian percontohan dengan konsep RTH.

    "Jadi, persoalannya adalah mengapa pohon tersebut dulu ditanam di lokasi yang memiliki banyak infrastruktur dan utilitas," tambah Rully.

    Pedestrian Juga Menata Utilitas

    Revitalisasi pedestrian Kajaolalido-Thamrin mencakup jalur pejalan kaki sepanjang 427,9 meter di Kajaolalido dan 225 meter di Thamrin. Pekerjaan tersebut juga mencakup penataan berbagai tiang utilitas, mulai dari tiang listrik eksisting, tiang trafo, Penerangan Jalan Umum (PJU), hingga tiang jaringan fiber optik.

    Di area pekerjaan terdapat 80 pohon ketapang, sembilan pohon mahoni berukuran besar, serta dua pohon berukuran kecil. Penanganan vegetasi dilakukan sebagai bagian dari penyesuaian desain dan pekerjaan konstruksi di lapangan.

    Sementara itu, sebanyak 62 tiang fiber optik direncanakan dikonsolidasikan menjadi 17 tiang induk.

    Rully merespons positif rencana Pemkot Makassar menyiapkan ratusan pohon endemik untuk ditanam di ruas jalan tersebut. Menurut dia, karakter akar yang ekspansif dapat memicu konflik dengan pedestrian dan infrastruktur lain ketika ruang tumbuh akar terbatas.

    Karena itu, pemotongan akar dinilai bukan solusi jangka panjang.

    "Kalau akarnya kita potong, kemudian trotoarnya kita perbaiki, dalam waktu tertentu akar itu akan tumbuh lagi dan kembali membongkar trotoar. Sehingga butuh strategi," imbuh Rully.

    Pohon Pengganti Dipilih Berdasarkan Karakter Akar

    Rully mengatakan penanganan vegetasi diarahkan pada penggantian pohon dengan spesies yang memiliki sistem perakaran lebih sesuai untuk kawasan pedestrian. Pemilihan jenis juga perlu mempertimbangkan kemampuan tanaman beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat.

    "Secara teknis, pohon itu harus dihilangkan, bukan sekadar dibuang, tetapi diganti dengan pohon lain yang akarnya lebih ramah. Sebisa mungkin kita memilih pohon asli atau pohon natif Sulawesi agar adaptasinya lebih cepat," katanya.

    Menurutnya, pemilihan pohon tidak cukup berdasarkan bentuk tajuk maupun nilai estetika. Karakter perakaran dan ruang tumbuh juga perlu menjadi pertimbangan.

    "Jenis pohonnya juga harus dipilih yang akarnya tidak agresif atau ekspansif. Dengan begitu, daya tahannya bisa lebih lama," jelasnya.

    Pendekatan tersebut dinilai penting agar persoalan antara akar dan infrastruktur tidak kembali muncul setelah pedestrian selesai dibangun.

    Rully juga menekankan bahwa keberhasilan penanaman pohon tidak cukup hanya dengan menyediakan lubang tanam. Perencana perlu memperhitungkan ruang yang dibutuhkan akar sejak tahap awal pembangunan.

    "Yang dibutuhkan tanaman sebenarnya bukan sekadar lubang untuk menanam, tetapi ruang bagi akarnya untuk tumbuh. Kita sering tidak melihat bagian yang berada di bawah tanah," ungkapnya.

    Akar membutuhkan air dan oksigen agar dapat tumbuh dengan baik. Karena itu, desain pedestrian perlu memungkinkan air dan udara tetap mencapai ruang tumbuh akar.

    "Supaya pohon bisa tumbuh, tanah harus memiliki air dan oksigen. Kalau semuanya tertutup sehingga air dan oksigen tidak bisa masuk, akar akan mati," terangnya.

    Konsep tersebut dapat diterapkan dengan menyediakan ruang tanah di bawah pedestrian dan menggunakan material perkerasan yang memungkinkan air meresap.

    "Walaupun trotoarnya tidak terlalu besar, bagian dalamnya dapat diisi tanah dan bagian atasnya menggunakan perkerasan yang memungkinkan air masuk, misalnya beton berpori," tuturnya.

    "Dengan begitu, akar dapat tumbuh di dalam ruang tersebut dan tidak cepat muncul ke permukaan," lanjutnya.

    Pohon Tua di Sekitar Karebosi Juga Dikaji

    Selain pohon yang berpotensi berkonflik dengan infrastruktur, tim arboris melakukan kajian terhadap pohon-pohon tua di sekitar kawasan pedestrian, khususnya jalur menuju Lapangan Karebosi.

    Rully mengatakan pohon tua memiliki pertimbangan berbeda karena aspek keselamatan menjadi perhatian utama. Kondisinya perlu dikaji berdasarkan potensi risiko terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.

    "Ini berbeda kasus, kalau yang tadi adalah konflik permanen antara pohon dengan infrastruktur dan utilitas," ujarnya.

    Karena itu, penataan vegetasi dalam revitalisasi pedestrian perlu menjadi bagian dari perencanaan kawasan secara menyeluruh. Jenis pohon, karakter akar, ruang tumbuh, kebutuhan air dan oksigen, serta hubungan vegetasi dengan infrastruktur perlu diperhitungkan.

    "Pendekatan ini, menjadi bagian dari upaya menghadirkan pedestrian yang tidak hanya nyaman bagi pejalan kaki, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan perkotaan," tukasnya.

    Arborist Usulkan Pohon Natif Sulawesi

    Perwakilan arborist, Faris, mengatakan pohon pengganti nantinya akan dipilih dari jenis yang lebih adaptif, termasuk pohon natif Indonesia yang memiliki keterkaitan dengan ekosistem dan budaya Sulawesi.

    Menurut Faris, penggantian sejumlah pohon, khususnya ketapang kencana di kawasan depan Karebosi, bukan hanya karena ukuran pohon yang besar. Kondisi pohon dan potensi konflik akar dengan infrastruktur serta jaringan utilitas juga menjadi pertimbangan.

    "Persoalan utamanya adalah kondisi beberapa pohon dan potensi konflik sistem perakaran dengan infrastruktur serta jaringan utilitas yang berada di kawasan pedestrian," saran Faris.

    Ia menyebut terdapat pohon yang memiliki banyak rongga dan kemiringan sekitar 40 derajat. Kondisi tersebut dinilai perlu diperhatikan karena berpotensi membahayakan masyarakat yang beraktivitas dan berolahraga di sekitar Karebosi.

    "Pohon tumbang itu tidak pernah bilang, tiba-tiba rubuh saja," ujar Faris saat menjelaskan pentingnya aspek keselamatan dalam penataan pohon.

    Faris juga menjelaskan karakter akar ketapang kencana yang dapat tumbuh cepat ketika memperoleh air dan nutrisi dari sistem drainase. Jika pohon tersebut tetap dipertahankan bersama sistem drainase baru, akarnya berpotensi masuk ke jaringan drainase.

    Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat menyebabkan drainase tersumbat dan meningkatkan biaya pemeliharaan maupun perbaikan infrastruktur.

    "Permasalahannya adalah konflik antara akar ketapang kencana dengan infrastruktur dan utilitas yang ada," jelasnya.

    Karena itu, opsi yang didorong bukan menghilangkan fungsi penghijauan, melainkan mengganti jenis pohon dengan tanaman yang lebih sesuai dengan karakter kawasan.

    Bitti hingga Padiasa Jadi Pilihan

    Faris menyebut pohon bitti atau Vitex cofassus sebagai salah satu pilihan. Pohon tersebut memiliki nilai kultural di Sulawesi Selatan dan dikenal sebagai salah satu jenis kayu yang digunakan dalam pembuatan kapal pinisi.

    Alternatif lainnya adalah padiasa atau Kleinhovia hospita serta Elaeocarpus, yang dikenal dengan nama jati tri atau jelatri.

    Menurut Faris, jenis-jenis tersebut memiliki karakter perakaran yang relatif lebih mudah dikendalikan. Pengendalian dapat dilakukan menggunakan root barrier maupun pemangkasan akar secara berkala agar pertumbuhan akar tidak mengganggu drainase dan utilitas.

    "Bukan pohonnya ditebang dan dihilangkan. Tetapi diganti dengan jenis pohon yang baru, yang kebetulan juga adalah pohon natif Sulawesi," katanya.

    Meski demikian, Faris mengatakan pemilihan jenis pohon tetap perlu dikoordinasikan dengan tim desain dan desainer lanskap. Jenis tanaman harus disesuaikan dengan konsep, bentuk, fungsi, dan kebutuhan kawasan pedestrian.

    Pohon asam juga disebut dapat menjadi pilihan pada lokasi yang memiliki ruang lebih luas. Meski bukan tanaman asli Indonesia, pohon tersebut telah lama tumbuh dan digunakan di Indonesia serta memiliki manfaat ekologis.

    "Kalau dipilih tanaman tersebut, pertumbuhannya tergantung kepada arah atau intensi desain yang akan dilakukan oleh para desainer," tutup Faris.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Dr. Helmy Budiman, turut hadir dan memberikan gambaran umum terkait konsep penataan vegetasi dalam revitalisasi pedestrian tersebut.

    Additional JS
    [EDITOR] author=Annadara name=Annadara role=EDITOR slug=annadara photo=https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSg-n5KZ4WTZkARFEZvWxIohDa586hXFfpZmRuKDKwtroHFLLGsPPrBZd4&s=10 bio=Terlahir dan tumbuh di Kota Daeng. Menyukai dunia jurnalisme warga. instagram=https://www.instagram.com/makassarinfodotcom/ facebook=@makassarinfodotcom tiktok= youtube=@makassarinfodotcom x= [/EDITOR] [EDITOR] author=Irwan name=Irwan role=EDITOR slug=irwan photo=https://cdn1-production-assets-kly.akamaized.net/assets/images/user-default.png bio=Berdomisili di Kota Makassar dan berminat di bidang jurnalisme warga. Alumni Jurnalistik di salah satu kampus di Kota Makassar. Pengalaman lebih dari 2 tahun mengelola konten di berbagai media digital dan portal berita. instagram= facebook= tiktok= youtube= x= [/EDITOR]