Mengenal Ince Daeng Ngoyo, Sosok Pejuang Tamamaung yang Diabadikan Jadi Nama Jalan di Makassar
"Mengenal kisah Ince Daeng Ngoyo, tokoh Tamamaung yang dikenang sebagai pejuang dan namanya kini diabadikan menjadi salah satu jalan di Makassar."
![]() |
| Jalan Ance Daeng Ngoyo |
Di balik nama jalan tersebut tersimpan kisah tentang seorang tokoh yang dikenang masyarakat Tamamaung sebagai pejuang yang gugur pada masa pergolakan setelah Indonesia merdeka.
Kawasan di sekitar jalan tersebut kini berkembang menjadi salah satu kawasan perkotaan Makassar. Hotel, indekos, dan berbagai tempat kuliner berdiri di sepanjang jalurnya.
Namun, jauh sebelum kawasan itu berkembang seperti sekarang, Tamamaung memiliki perjalanan sejarah yang panjang.
Tamamaung di Ujung Utara Kerajaan Gowa
Dalam kisah sejarah lokal yang berkembang di masyarakat, Tamamaung pada masa lalu merupakan wilayah paling utara Kerajaan Gowa yang berbatasan langsung dengan Kerajaan Tallo.
Wilayah tersebut disebut masuk dalam Distrik Gallarang Mangasa Kerajaan Gowa. Secara geografis, kawasan Tamamaung dikelilingi sejumlah aliran sungai sehingga pada masa lalu relatif terpencil dari pusat kerajaan.
Kondisi geografis itu disebut ikut membentuk karakter masyarakat Tamamaung yang kuat, mandiri, dan memiliki hubungan kekeluargaan yang erat.
Tamamaung juga memiliki selayang pandang:
"Karaenga ri Tamamaung, sayanga ri Karampuang."
Ungkapan tersebut dimaknai sebagai gambaran mengenai sosok yang dimuliakan di Tamamaung dan yang disayangi di Karampuang. Hal itu sekaligus menggambarkan hubungan antara kedua wilayah yang telah berlangsung sejak masa kerajaan.
Nama Tamamaung dan Kisah Larangan Adat
Dalam cerita yang diwariskan masyarakat, nama Tamamaung dikaitkan dengan sebuah larangan adat. Masyarakat disebut dilarang membangun rumah kayu dengan teknik memberi pasak pada bagian tiangnya.
Konon, rumah yang melanggar larangan tersebut akan menghilang.
Namun, dari kampung yang kisah asal-usulnya berkaitan dengan larangan tersebut, kemudian lahir seorang tokoh yang justru terus hidup dalam ingatan masyarakat: Ince Daeng Ngoyo, yang juga dikenal sebagai Ance Daeng Ngoyo.
Keturunan Dato ri Bandang
Dalam penuturan masyarakat Tamamaung, Ince Daeng Ngoyo disebut memiliki garis keturunan langsung dari Dato ri Bandang, salah satu tokoh penyebar Islam di Tanah Gowa bersama Dato ri Patimang dan Dato ri Tiro.
Gelar "Ince" yang melekat pada namanya juga dikaitkan dengan tradisi gelar kehormatan di Sulawesi Selatan.
"Ince" berasal dari kata "Encik" dalam bahasa Minang, yang berarti tuan, orang terpandang, atau guru agama.
Sejak kedatangan Dato ri Bandang, Dato ri Patimang, dan Dato ri Tiro pada abad ke-17, gelar tersebut kemudian disebut digunakan oleh keturunan mereka dan sejumlah ulama sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu agama dan nasab.
Menurut penuturan orang-orang tua di Tamamaung, Ince Daeng Ngoyo memiliki tubuh tinggi, besar, dan kekar. Wibawanya disebut terlihat dari cara berjalan maupun bertutur.
Ia dikenal sebagai sosok yang sederhana dan suka membantu masyarakat. Namun, dalam kisah yang diwariskan keluarganya, darah pejuang dari leluhurnya kembali muncul ketika wilayah Tamamaung menghadapi ancaman pasukan Belanda.
Tamamaung dalam Operasi Westerling
Tahun 1946 menjadi salah satu periode paling kelam dalam sejarah Sulawesi Selatan. Operasi militer Belanda yang dikenal masyarakat sebagai "Bebas Actie" Westerling menyasar berbagai wilayah di Sulawesi Selatan.
Dalam cerita para orang tua yang disebut sebagai saksi hidup, pasukan Belanda menyisir kampung-kampung dan menangkap penduduk tanpa membedakan usia maupun jenis kelamin.
Masyarakat Tamamaung disebut berusaha menyelamatkan diri dengan berbagai cara. Sebagian bersembunyi di dalam lubang yang digali di tanah, sementara lainnya masuk ke sungai dan bersembunyi di balik semak-semak.
Ada pula yang mencari perlindungan di rawa-rawa dan hutan di sekitar kampung.
Suasana Tamamaung kala itu digambarkan sangat mencekam. Kampung yang biasanya dipenuhi aktivitas warga berubah sepi karena penduduk berusaha menghindari penyisiran.
Dalam cerita keluarga yang diwariskan secara turun-temurun, rumah Ince Daeng Ngoyo menjadi salah satu tempat berlindung warga.
Penduduk yang masuk ke rumah tersebut disebut tidak terlihat oleh pasukan Belanda ketika penyisiran berlangsung. Kisah itu kemudian menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Tamamaung mengenai rumah Ince Daeng Ngoyo.
Menyerahkan Diri demi Menyelamatkan Keluarga
Di tengah situasi tersebut, kabar mengenai penangkapan warga Tamamaung semakin meluas.
Keluarga dan tetangga disebut mulai ditangkap. Dalam cerita yang diwariskan masyarakat, sejumlah perempuan dan anak-anak juga mengalami penyiksaan untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan orang-orang yang dicari.
Dalam kondisi tersebut, Ince Daeng Ngoyo disebut mengambil keputusan untuk menyerahkan diri.
Ia keluar dan ikut ditangkap. Dalam kisah yang diwariskan keluarganya, keputusan tersebut bukan dianggap sebagai bentuk menyerah, melainkan pengorbanan agar tidak semakin banyak orang menjadi korban karena keberadaannya.
Para tawanan dari Tamamaung kemudian dikumpulkan di wilayah Batua sebelum dibawa ke tempat eksekusi.
Gugur di Hadapan Sesama Tawanan
Di tempat pengumpulan tersebut, Ince Daeng Ngoyo disebut gugur pada masa operasi militer Belanda pada 1946–1947.
Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, ia dieksekusi tanpa melalui pengadilan. Luka tembak disebut menembus bagian dada hingga ke belakang.
Gugurnya Ince Daeng Ngoyo dikisahkan disaksikan oleh kerabat dari Tamamaung serta para tawanan dari berbagai wilayah.
Bagi masyarakat yang mewariskan cerita tersebut, cara ia menghadapi akhir hidup menjadi bagian penting dari ingatan mengenai sosoknya. Ia tidak gugur ketika bersembunyi, tetapi di tempat berkumpulnya para tawanan.
Jenazahnya kemudian terlebih dahulu dimakamkan di kampung halamannya, Tamamaung.
Warga disebut mengantarkan jenazah tersebut dengan suasana duka. Ia bukan hanya dipandang sebagai seorang pejuang, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar kampung.
Bertahun-tahun kemudian, jenazah Ince Daeng Ngoyo dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Panaikang.
Di tempat tersebut, namanya kemudian berada di antara para pejuang yang dikenang dalam sejarah perjuangan bangsa.
Nama yang Diabadikan Menjadi Jalan
Kisah tentang Ince Daeng Ngoyo kemudian terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Jika rumah yang melanggar larangan adat dalam cerita asal-usul Tamamaung disebut dapat menghilang, nama Ince Daeng Ngoyo justru tetap bertahan.
Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan di Kota Makassar.
Keturunan Ince Daeng Ngoyo juga masih banyak berdomisili di Kelurahan Tamamaung. Mereka menjadi bagian dari masyarakat yang meneruskan cerita mengenai keberanian, pengorbanan, dan pengabdian leluhurnya.
Bagi generasi sekarang, nama Jalan Ince Daeng Ngoyo mungkin hanya terlihat sebagai penanda sebuah ruas jalan.
Namun, di balik nama tersebut terdapat cerita tentang seorang tokoh Tamamaung yang dikenang masyarakat karena memilih menghadapi risiko demi orang-orang di sekitarnya.
Setiap orang yang melewati jalan itu mungkin akan bertanya, "Siapa beliau?"
Pertanyaan itulah yang membuat sebuah nama jalan tidak berhenti sebagai penunjuk lokasi. Ia menjadi pintu untuk mengenang sejarah sebuah kampung dan orang-orang yang pernah hidup di dalamnya.
Dari Tamamaung yang dahulu berada di kawasan terpencil hingga menjadi bagian dari kota yang terus berkembang, kisah Ince Daeng Ngoyo tetap menjadi bagian dari ingatan masyarakat.
"Teako rong bangungi balla nipadongko" - Jangan bangun rumah asal-asalan.
Bagi masyarakat yang mewariskan kisah tersebut, pesan itu bukan hanya tentang sebuah rumah. Ia menjadi bagian dari cerita tentang Tamamaung, tentang leluhur, dan tentang seorang tokoh yang dipercaya telah memberikan pengorbanan bagi generasi setelahnya.
Al-Fatihah.
* Muhammdad Aidil Abbas
